Kopi Untuk Anak Negeri Part 3



Kopi jawa (Java coffee) adalah kopi yang berasal dari Pulau Jawa di Indonesia. Kopi ini sangatlah terkenal sehingga nama Jawa menjadi nama identitas untuk kopi. Kopi Jawa Indonesia tidak memiliki bentuk yang sama dengan kopi asal Sumatra dan Sulawesi, cita rasa juga tidak terlalu kaya sebagaimana kopi dari Sumatra atau Sulawesi karena sebagian besar kopi jawa diproses secara basah (wet process). Meskipun begitu, sebagian kopi Jawa mengeluarkan aroma tipis rempah sehingga membuatnya lebih baik dari jenis kopi lainnya. Kopi Jawa memiliki keasaman yang rendah dikombinasikan dengan kondisi tanah, suhu udara, cuaca, serta kelembaban udara. Kopi Jawa yang paling terkenal adalah Jampit dan Blawan. Biji kopi Jawa yang tua (disebut old-brown) berbentuk besar, dan rendah kadar asam.

Beberapa daerah di Indonesia dikenal sebagai penghasil kopi terbaik dunia, khususnya di Jawa Tengah. Provinsi Jawa Tengah merupakan salah satu dari penghasil terbaik di Indonesia karena letak wilayahnya dikelilingi oleh dataran tinggi dan Pegunungan, kurang lebih ada sekitar sembilan Gunung yang mengelilingi wilayah jawa tengah, yaitu: Gunung Slamet, Gunung Sindoro, Gunung Sumbing, Gunung Merbabu, Gunung Merapi, Gunung Prahu, Gunung Rogojembangan, Gunung Ungaran, dan Gunung Muria. Ini menjadi salah satu modal utama untuk mengembangkan dan membudidayakan kopi, karena kopi hanya bisa dikembangkan di daerah yang mempunyai ketinggian mulai 400 sampai 1.300 meter.

Jepara adalah salah satu kabupaten di jawa tengah yang bisa dibilang beruntung, karena wilayah Jepara masih masuk ke wilayah di bawah Gunung Muria dengan ketinggian 1.602 M. Kopi jepara berada di lereng gunung muria, yaitu meliputi daerah keling, kembang, pakisaji, mayong. Tetapi dominasi lahan berada di kecamatan keling, diantaranya adalah Desa Tempur, Desa Damarwulan, Desa Watuaji, Desa Kunir. Di wilayah tersebut bisa dibilang yang mengenalkan kopi jepara, dengan nama "dapur kuat". Untuk riwayat kopi di lereng muria sebenarnya sudah ada sejak zaman belanda, pada waktu tanam paksa. Ada juga yang cerita, dari petani kopi, Pak Mashadi Desa Tempur usia sekitar 61 tahun, kalo tanaman yang ada di lahan beliau sudah ada dari kakeknya.

Adapun jenis yang ada adalah kopi robusta, kopi arabika, dan ada juga kopi exelsa (kopi nangka). Hampir 70% kopi yang ada di jepara adalah jenis robusta, dan sisanya dari arabika dan exelsa. Kita tahu bahwa kopi Cuma di panen dalam kurun setahun sekali, tepat di bulan juli nanti adalah panen raya, semoga hasil disetiap tahun bisa progres dan lebih membaik. Dan akhirnya akan berimbas pada kesejahteraan petani sendiri. Dalam pengolahan kopi setelah panen menggunakan 2 metode, yaitu dengan pengolahan kering dan pengolahan basah. Untuk pengolahan kering disebut dengan proses natural yaitu dimana buah kopi setelah di panen langsung dijemur untuk dikeringkan. Sedangkan pengolahan basah terdiri dari beberapa proses, yg dipakai saat ini di petani biasanya proses wash, fullwash, juga ada honey proses, sampai fermentasi. Dari pengolahan tersebut dapat menjadikan citarasa kopi berbeda. Pendampingan pegiat kopi sangat diperlukan guna menjadikan standar  kualitas kopi secara umum.

Untuk menjadikan kualitas kopi baik adalah peran petani sekitar 60% dalam merawat tanaman dan mengolah saat setelah panen, sedangkan peran roaster dan prosesor 30%, dan 10% ada pada meja barista di coffeeshop. Setelah pengolahan setelah panen, kemudian ke peran prosesor dan roaster untk mengolah dari biji mentah ke biji matang (proses sangrai) dari sinilah biasanya dari coffeeshop mengolah untuk disajikan kopi berkarakter. Sebelum di sajikan menjadi menu untuk bisa dinikmati.

Salah satu coffeeshop yang pertama kali mengenalkan kopi di jepara adalah “Kedei Coffee Jepara” yang bertempat di Desa Ngabul, Tahunan, Jepara. Memang belum lama buka, di awal tahun 2015 mengenalkan kopi nusantara, namun belum bisa diterima oleh masyarakat dikarenakan masih terbiasa kopi sachet. Kemudian merubah konsep agar bisa diterima oleh masyarakat dengan membuat menu dengan yang hampir cocok dengan rasa kopi sachet. Kemudian dipertengahan tahun lebih fokus memilih untuk mengenalkan dan menjual khusus kopi jepara, dengan harapan kopi lokal bisa dikenal baik masyarakat umum dan menjadi bagian dari kopi nusantara. Pertama mengenalkan kopi lokal bisa dikatakan tantangan paling besar, karena banyak yang pesimis dan ada pula yang meremehkan, karena saat itu kualitas dan rasa kopi masih belum memiliki karakter. Saat ini kopi jepara sudah memiliki karakter tersendiri dan sudah dikenal cukup luas dan sudah menjadi bagian kopi nusantara.

“Kopi Adalah Hati Yang Akan Selalu Memberikan Pemahaman dan Inspirasi”
Terima Kasih Sudah Membaca


“Dokumentasi tentang Profil Kedei Coffee Jepara”

















Komentar

Postingan Populer