BERPOLITIK DENGAN JALAN BERJUDI
Sutan
Syahrir tokoh Sosialis Radikal yang pernah menjadi Perdana Menteri Negara RI di
Zaman Orde Lama Dalam sistem Kabinet Parlementer pernah berkata bahwa: Politik
bukanlah sekadar perhitungan, melainkan bertindak etis, berbuat dan bersikap
moral tinggi. Para pemimpin haruslah menjadi pahlawan. Pertanyaannya yang
kemudian kita jawab adalah, apakah pemikiran politik sebagaimana Syahrir
kemukakan itu ada secara jamak diamalkan sekarang ini? jawabnya hampir pasti
tidak ada yang sepakat secara bulat setuju dengan Syahrir. Kenyataannya,
politik saat ini lebih dipahami sebagai sebuah kontestasi yang sarat
perhitungan.
Praktik
politik saat ini justru sarat dengan berbagai perhitungan yang penuh aroma
spekulasi sebagaimana halnya sebuah perjudian yang mengejar sejumlah
kemungkinan dalam ketidakpastian. Maka definisi politik sebagai seni mengubah
ketidakmungkinan menjadi hal yang mungkin semakin mendapat legitimasi sosial
tanpa moral. Politik, khususnya dalam kontestasi Pilkada, telah sarat dimuati
pragmatisme yang diwarnai hitung-hitungan melalui mekanisme survei popularitas,
akseptabilitas dan elektabilitas. Berbagai tingkatan posisi tersebut telah
dimotori dan didesain dengan merekayasanya melalui kekuatan isi tas (Uang). Ada
yang awalnya tidak dikenal dan tidak diterima, tetapi karena adanya jasa
konsultan politik dengan berbagai saran perlakuan tindakan di lapangan
berdasarkan hasil survei pemetaan, maka dalam jangka tidak terlalu lama posisi
calon bisa disulap menjadi populer dan disenangi. Itu karena ada uang yang bisa
menggerakkan elemen-elemen penentunya.
Dapat
disimpulkan, bahwa praktik politik masa kini hampir pasti tidak bisa
dimenangkan tanpa digerakkan dengan uang, dan uang itu juga harus didayagunakan
dan diperlakukan seperti halnya memainkan dadu di atas meja judi. Harus berani
mengambil keputusan berdasarkan hitung-hitungan spekulatif. Tidak ada teman
sejati dalam perjudian. Yang ada hanya teman dalam persekongkolan untuk menang.
Komitmen untuk berteman tidak lagi bisa diperpegangi. Idealisme telah tergusur
oleh pragmatisme. Menghalalkan segala cara untuk menang, semakin mendapatkan
momentumnya. Inilah masa dimana politik sebagai seni dan idealisme serta ilmu
pengetahuan dan etika mencapai puncak krisisnya. Akhirnya kata demokrasi yang
asal kelahirannya dari rakyat untuk rakyat justru menjadikan rakyat sebagai
korban utamanya yang terparah. Rakyat tertipu dalam buaian para politisi dan
terexploitasi untuk kepentingan syahwat para elite politik.
Rakyat
yang seharusnya bisa mendikte menurut rumus demokrasi, justru menjadi pihak
yang didikte. Rakyat begitu sulit bersatu untuk memperjuangkan kepentingannya.
Namun di sisi lain rakyat begitu mudah dipersatukan melalui Event Politik demi
kepentingan para politisi. Rakyat semakin mudah dibentuk dalam politik
kepentingan, di sisi lain, rakyat juga mudah saling membentak diantara mereka
sendiri, demi memenuhi kehendak patron politiknya. Rakyat terkotak berdasarkan
kotak-kotak para politisi yang bermain cari hidup di tengah rakyat. Demikianlah
situasi politik kita akhir-akhir ini. Sebuah potret buram demokrasi kita,
akibat transformasi politik yang salah arah dan gagal. Demokrasi tersandera
oleh para bandar, bandit dan badut politik. Nyaris tidak ada pesta demokrasi
Pilkada tanpa ada bandar yang bermain di belakangnya, lalu menjadi seru dan
serius menegangkan oleh ulah para bandit. Namun, kita pun terpaksa tertawa,
karena juga ada badutnya. Sampai kapan wajah dan tingkah politik kita terus begini?
Referensi:
Anwar Hasan, Pijar Opini.

Komentar
Posting Komentar