MEMAHAMI DAN MENUMBUHKAN IDENTITAS BANGSA MELALUI PENDIDIKAN KARAKTER
Pendidikan karakter merupakan bentuk kegiatan manusia yang di
dalamnya terdapat suatu tindakan yang mendidik diperuntukkan bagi generasi
selanjutnya. Tujuan pendidikan karakter adalah untuk membentuk penyempurnaan
diri individu secara terus-menerus dan melatih kemampuan diri demi menuju
kearah hidup yang lebih baik. Aktivitas pendidikan sejak awal telah dijadikan sebagai cara
bertindak dari masyarakat. Manusia mewariskan nilai yang menjadi bagian penting
dari budaya masyarakat dimana tempat mereka hidup dan mewariskan nilai kepada
generasi selanjutnya. Pendidikan memiliki peran penting karena pendidikan tidak hanya
menentukan keberlangsungan masyarakat namun juga menguatkan identitas individu
dalam masyarakat, khususnya identitas dari bangsa.
Dalam prosesnya berjuang melawan lupa dan berusaha membuat kenangan akan harta
warisan kebudayaan merupakan awal kegiatan pendidikan.
Pada awalnya, manusia itu lahir hanya membawa “Personality” atau
kepribadian. Secara umum kepribadian manusia ada 4 macam dan ada banyak sekali
teori yang menggunakan istilah yang berbeda bahkan ada yang menggunakan warna,
tetapi polanya tetap sama. Mengapa kita perlu mengenali tipe kepribadian? Karena
kepribadian adalah dasar dari pembentukan karakter seseorang, dan pada bagian
inilah seseorang memiliki kecenderungan untuk merespon terhadap segala
sesuatunya.
Penguatan karakter menjadi salah satu program
prioritas Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Wakil Presiden Jusuf Kalla. Dalam
nawacita disebutkan pemerintah melakukan
revolusi karakter bangsa. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengimplementasikan
penguatan karakter penerus bangsa melalui gerakan Penguatan Pendidikan Karakter
(PPK) yang digulirkan sejak 2016. Menurut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan,
Muhadjir Effendi : “Gerakan Penguatan Pendidikan Karakter sebagai pondasi dan
ruh utama pendidikan”.
Tak hanya olah pikir (literasi), PPK mendorong
pendidikan nasional kembali memperhatikan olah hati (etik dan spiritual) olah
rasa (estetik), dan juga olah raga (kinestetik). Keempat dimensi pendidikan ini
hendaknya dapat dilakukan secara utuh-menyeluruh dan serentak. Integrasi proses
pembelajaran intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler di sekolah dapat
dilaksanakan dengan berbasis pada pengembangan budaya sekolah maupun melalui
kolaborasi dengan komunitas-komunitas di luar lingkungan pendidikan. Terdapat
lima nilai karakter utama yang bersumber dari Pancasila, yang menjadi pengembangan
gerakan PPK, yaitu nilai religius, nasionalisme, integritas, kemandirian dan
kegotong-royongan. "PPK ini merupakan pintu masuk melakukan pembenahan
secara menyeluruh terhadap pendidikan kita," ujar mendikbud.
"Prinsipnya, manajemen berbasis sekolah,
lalu lebih banyak melibatkan siswa pada aktivitas daripada metode ceramah,
kemudian kurikulum berbasis luas atau broad based curriculum yang
mengoptimalkan pemanfaatan sumber-sumber belajar," ujar Mendikbud.
Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) akan diberlakukan
di seluruh sekolah pada 2019, sedangkan saat ini masih diujicobakan di 23 ribu
sekolah. Menteri Muhadjir mengatakan tahun depan jumlah sekolah menerapkan PPK
ditambah menjadi 26 ribu lembaga dan 2019 akan diberlakukan di semua sekolah. PPK
mendorong sinergi tiga pusat pendidikan, yaitu sekolah, keluarga (orang tua),
serta komunitas (masyarakat) agar dapat membentuk suatu ekosistem pendidikan.
Menurut mendikbud, selama ini ketiga seakan
berjalan sendiri-sendiri, padahal jika bersinergi dapat menghasilkan sesuatu
yang luar biasa. Menurutnya, kunci kesuksesan pendidikan karakter terletak pada
peran guru. Sebagaimana ajaran Ki Hajar Dewantara, “ing ngarso sung tuladho,
ing madyo mbangun karso, tut wuri handayani”, maka seorang guru idealnya memiliki
kedekatan dengan anak didiknya. Guru hendaknya dapat melekat dengan anak
didiknya sehingga dapat mengetahui perkembangan anak didiknya. Tidak hanya
dimensi intelektualitas saja, namun juga kepribadian setiap anak didiknya.
Lahirnya pendidikan karakter bisa dikatakan
sebagai sebuah usaha untuk menghidupkan spiritual yang ideal. Foerster seorang
ilmuan pernah mengatakan bahwa tujuan utama dari pendidikan adalah untuk
membentuk karakter karena karakter merupakan suatu evaluasi seorang pribadi
atau individu serta karakter pun dapat memberi kesatuan atas kekuatan dalam
mengambil sikap di setiap situasi. Pendidikan karakter pun dapat dijadikan
sebagai strategi untuk mengatasi pengalaman yang selalu berubah sehingga mampu
membentuk identitas yang kokoh dari setiap individu dalam hal ini dapat dilihat
bahwa tujuan pendidikan karakter ialah untuk membentuk sikap yang dapat membawa
kita kearah kemajuan tanpa harus bertentangan dengan norma yang berlaku.
Pendidikan karakter pun dijadikan sebagai wahana sosialisasi karakter yang
patut dimiliki setiap individu agar menjadikan mereka sebagai individu yang
bermanfaat seluas-luasnya bagi lingkungan sekitar. Pendidikan karakter bagi
individu bertujuan agar :
1. Mengetahui berbagai karakter baik manusia.
2. Dapat mengartikan dan menjelaskan berbagai karakter.
3. Menunjukkan contoh perilaku berkarakter dalam kehidupan sehari-hari.
4. Memahami sisi baik menjalankan perilaku berkarakter.

Komentar
Posting Komentar